NEWS Pangkajane sidenreng – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kalla Institute menggagas program akselerasi ekonomi kreatif di Desa Tabo-Tabo, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Program tersebut lahir setelah BEM Kalla Institute berhasil memperoleh dana hibah pengabdian masyarakat dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) tahun 2025.

Ketua BEM Kalla Institute, Rizky Ramadhan, mengatakan bahwa program ini bertujuan membantu masyarakat desa mengembangkan potensi ekonomi lokal, khususnya di sektor kuliner, kerajinan tangan, dan produk pertanian olahan.
Baca Juga : Dirut Semen Tonasa Bahas Inovasi Hijau di Rakerkonprov Apindo Sulsel
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi turun langsung membantu masyarakat. Melalui dana hibah ini, kami akan mendampingi warga Desa Tabo-Tabo untuk meningkatkan nilai tambah produk mereka,” ujar Rizky di sela-sela kegiatan sosialisasi program, Selasa (11/11/2025).
Dorong Inovasi Produk dan Pemasaran Digital
Program akselerasi ekonomi kreatif ini akan berjalan selama enam bulan, mencakup pelatihan kewirausahaan, inovasi produk, hingga pemasaran digital berbasis media sosial. Mahasiswa dari berbagai jurusan dilibatkan untuk memberikan pendampingan teknis kepada pelaku usaha mikro di desa tersebut.
“Kami melihat banyak potensi di Tabo-Tabo, seperti hasil pertanian dan kuliner lokal. Tantangannya ada di pengemasan dan pemasaran. Karena itu, kami bantu mereka agar produknya bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” jelas Nurul Aini, koordinator bidang pemberdayaan masyarakat BEM Kalla Institute.
Pihaknya juga berencana menggandeng Dinas Koperasi dan UMKM Pangkep serta pelaku industri kreatif lokal untuk memperkuat jaringan produksi dan distribusi.
Apresiasi dari Pemerintah Desa
Kepala Desa Tabo-Tabo, H. Arman, menyambut positif inisiatif mahasiswa tersebut. Ia menilai kegiatan ini bisa menjadi contoh kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat desa.
“Kami berterima kasih kepada BEM Kalla Institute karena telah memilih Desa Tabo-Tabo sebagai lokasi program. Ini langkah baik untuk mendorong kemandirian ekonomi warga,” ucap Arman.
Menurutnya, warga antusias mengikuti pelatihan yang digelar. Beberapa pelaku UMKM bahkan mulai menerapkan teknik pemasaran online untuk menjual produk lokal seperti keripik pisang dan sambal khas Pangkep.
Sinergi Kampus dan Desa untuk Pembangunan Berkelanjutan
Rektor Kalla Institute, Dr. Andi Rasyid, menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Kampus harus hadir memberi solusi bagi desa. Kami berharap program ini menjadi model kolaborasi yang berkelanjutan,” kata Rasyid.
Dengan dukungan dana hibah dan semangat kolaborasi, BEM Kalla Institute berharap Desa Tabo-Tabo dapat menjadi contoh desa kreatif dan mandiri ekonomi di wilayah Pangkep.