News Pangkajeane Sidenreng — Kabupaten Maros harus menerima kenyataan pahit setelah gagal mempertahankan kategori Nindya dalam ajang Penghargaan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) 2025. Acara penyerahan penghargaan berlangsung di Pangkajene, Sidenreng, dan dihadiri langsung oleh perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia.

Penghargaan KLA merupakan bentuk apresiasi pemerintah pusat kepada daerah yang dinilai memiliki komitmen tinggi dalam pemenuhan hak-hak anak. Dalam penilaian tahun ini, Maros mengalami penurunan kategori, yang menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi dan pembenahan di berbagai sektor.
Baca Juga : Pemkab Maros Lelang Barang Rongsokan, Hanya Dua Lot Terjual
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Maros mengungkapkan, penurunan ini disebabkan oleh adanya beberapa indikator yang belum terpenuhi secara optimal, seperti ketersediaan ruang bermain ramah anak, penguatan partisipasi anak dalam perencanaan pembangunan, serta pelayanan kesehatan dan pendidikan yang inklusif.
Di Pangkajene Sidenreng, Maros Gagal Pertahankan Prestasi KLA Nindya
“Tahun ini persaingan semakin ketat. Banyak daerah yang meningkatkan kualitas layanan untuk anak. Sementara di Maros, ada beberapa program yang belum terealisasi maksimal,” ujar Kepala DP3A Maros usai acara penghargaan, Kamis (7/8).
Selain itu, faktor penurunan capaian indikator KLA juga disebabkan oleh keterbatasan anggaran serta dampak lanjutan dari penyesuaian program pascapandemi. Beberapa program prioritas terpaksa mengalami penundaan, yang berdampak pada skor penilaian secara keseluruhan.
KLA 2025: Maros Harus Berbenah Usai Turun Kategori
Di sisi lain, Kabupaten Maros sebenarnya masih memiliki potensi besar untuk kembali meraih kategori Nindya, bahkan naik ke kategori Utama, jika mampu melakukan percepatan perbaikan. Pemerintah daerah disebut tengah menyusun strategi baru yang lebih fokus pada pemenuhan lima kluster utama KLA, yakni hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dan kesejahteraan, pendidikan, serta perlindungan khusus.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Hasanuddin, Andi Rahman, menilai bahwa penurunan kategori ini harus dijadikan momentum evaluasi menyeluruh. “Maros tidak boleh larut dalam kekecewaan. Justru ini waktu yang tepat untuk membenahi koordinasi antarperangkat daerah dan memperkuat kolaborasi dengan masyarakat serta sektor swasta,” jelasnya.
Faktor Maros Gagal Pertahankan Kategori Nindya di KLA 2025
Pada ajang KLA 2025 ini, sejumlah daerah di Sulawesi Selatan berhasil naik kategori berkat inovasi layanan dan komitmen kepala daerah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Maros agar tidak tertinggal dalam kompetisi daerah ramah anak di masa mendatang.
Pemkab Maros menyatakan komitmennya untuk menjadikan penghargaan tahun ini sebagai motivasi. Langkah cepat berupa evaluasi program, peningkatan kapasitas SDM, dan penguatan anggaran akan segera dilakukan. “Kami akan berusaha keras agar tahun depan Maros bisa kembali naik kategori. Hak-hak anak adalah prioritas kami,” tutup Kepala DP3A Maros.








